Renungan Ramadhan (1): Panggilan Kasih Sayang
Sebagai awal dari refleksi Ramadhan selama
satu bulan ke depan, penulis akan memulai ulasan renungan Ramadhan ini dengan
melihat al-Quran surat al-Baqarah ayat 183 yang berisi tentang penegasan atas
perintah puasa. Secara redaksional, perintah puasa dalam Al-Quran dimulai
dengan kalimat: ya ayuhalladzina amanu. ‘wahai orang-orang yang
beriman’. Mengapa harus orang beriman? Kenapa tidak ayuhannas ‘wahai
manusia’?, tidak hanya tentang perbedaan tempat turun ayat (madaniyah
dan makiyah), kedua kalimat itu memiliki implikasi pragmatik yang lebih luas.
Secara linguistik, kalimat ya
ayyuhalladzina amanu menggunakan dua huruf nida’: ya’ dan ayyu,
kemudian diikuti dengan huruf tanbih ‘ha’ di akhirnya yang mana menurut
Thohir Yusuf memiliki makna ‘minta perhatian’. Dua kata panggil yang digunakan,
serta diiringi dengan penekanan secara fonetis dengan menggunakan huruf tanbih,
menunjukkan bahwa pesan yang ingin disampaikan Allah dalam ayat ini sangat
penting, sehingga dibutuhkan fokus terlebih dahulu untuk benar-benar memasang
telinga guna menangkap apa yang akan disampaikan Allah (yakni tentang perintah
puasa).
Secara literal, ulama’ menyebutkan bahwa makna
ya ayyuhalladzina amanu mengandung makna nida’ musyafaqah
‘panggilan kasih sayang’. Karena sifatnya panggilan khusus, maka orang-orang
yang masuk golongna ini juga khusus. Sebagaimana lazimnya dalam suatu
panggilan, seseorang hanya akan menoleh ketika dia sadar bahwa nama dia yang
dipanggil. Sebaliknya, jika bukan namanya, maka menoleh pun dia tidak akan
lakukan. Perintah shaum yang diawali dengan penegasan dan panggilan
kasih sayang ini memberikan gambaran bahwa perintah puasa adalah perintah
khusus kepada “hanya” orang beriman. Jika bukan orang beriman tidak termasuk
dalam panggilan ini.
Maka secara semiotik, penggunaan panggilan
khusus ini akan memunculkan beberapa implikasi, Pertama, perintah puasa
adalah sekaligus memetakan manusia yang beriman dan yang tidak. Kedua,
perintah puasa harus dilakukan dengan iman, yang karenanya setiap orang yang
akan menuju puasa ramadhan harus menyiapkan iman dulu sebelum melakukan puasa.
Itulah mengapa dalam hadits nabi Muhammad SAW, syarat untuk mendapatkan
pengampunan pada bulan ramadhan adalah dengan melaksanakan ibadah secara iman
dan iklas (imanan wahtisaban). Ketiga, orang yang tidak berpuasa
(tanpa udzur syar’i) maka dia telah melakukan tindakan keluar dari iman. Hal
ini karena label yang diberikan Allah dalam konteks berpuasa adalah stempel
iman, jika ada yang tidak melakukannya, meskipun dia mengaku beriman, berarti
dia telah menghapus stempel iman, atau setidaknya memburamkannya.
Alangkah indahnya, bahwa tahun ini Allah
kembali mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan, untuk menunjukkan penghambaan
kita dengan lebih dari biasanya. Inilah saatnya orang-orang yang disayangi
Allah (kita yang mengaku beriman) untuk memperindah diri dengan ibadah,
menghapus kekotoran hati, meningkatkan kencintaan kepada Ilahi dan mengekang
hawa nafsu yang mengajak lalai dalam beribadah dan berprilaku. Kita songsong
awal ramadhan ini dengan semangat untuk menjadi lebih baik lagi guna menggapai
derajat yang dijanjikan Allah diakhir ayat-Nya, ‘menjadi orang yang bertakwa”.
Posting Komentar untuk "Renungan Ramadhan (1): Panggilan Kasih Sayang"